Subscribe:

Mari Membaca

Ads 468x60px

Social Icons

Minggu, 01 Maret 2009

TASAWWUF

PEMBAHASAN
A. Tasawuf Akhlaqi
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonsentrasi pada perbaikan akhlak dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf ini berkonsentrasi pada upaya-upaya menghindarkan diri dari akhlak yang tercela (mazmumah) sekaligus mewujudkan akhlak yang terpuji (mahmudah) didalam diri para shufi. Menurut para shufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya. Jika manusia telah dikendalikan hawa nafsunya maka ia telah mempertuhankan nafsunya tersebut. Dengan demkian berbagai penyakitpun timbul didalam dirinya, seperti kikir, sombong, membanggakan diri, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hati. Dalam pandangan shufi, merupakan penghalang bagi seorang untuk dekat dengan Tuhannya.
Dalam pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah mengusai hawa nafsu, menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila mungkin- mematikan hawa nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak, disusun sebagai berikut:
1) Takhalli, adalah usaha membersihkan diri dari semua prilaku yang tercela, baik maksiat batin maupun lahir. Maksiat-maksiat ini harus dibersihkan karena menghalangi seseorang untuk dekat pada Tuhannya, yang oleh para shufi disebut sebagai najis maknawiyah. Sebagaimana najis dzati yang menghalangi seseorang untuk ibadah kepada-Nya.
2) Tahalli, adalah tahapan pengisian jiwa setelah dikosongkan dari akhlak-akhlak tercela. Diantara sikap mental dan perbuatan baik yang sangat penting untuk diisikan kedalam jiwa manusia adalah: al-Taubah, al-Khauf wa al-Raja, al-Zuhud, al-Faqr, al-Ikhlas, al-Shabr, al-Ridha, al-Muraqabah dan lain-lain.
3) Tajalli, berarti tersingkapnya nur gaib. Agar yang apa yang telah diupayakan pada langkanh diatas langgeng, berkelanjutan, dan terus meningkat maka rasa ketuhanan mesti dipupuk dalam diri. Kesadaran ketuhanan didalam semua aktivitas akan melahirkan kecintaan, bahkan kerinduan kepada-Nya.
B. Tasawuf Falasafi
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori tasawuf dan filsafat atau yang bermakana mistik metafisis, karakter umum dari tasawuf ini sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Al-Taftazani bahwa tasawuf seperti ini: tidak dapat dikatagorikan sebagai tasawuf dalam arti sesungguhnya, karena teori-teorinya selalu dikemukakan dalam bahasa filsafat, juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang sebenarnya karena teori-teorinya juga didasarkan pada rasa.
Para shufi aliran ini mengenal dengan baik filsafat-filsafat Yunani dan berbagai aliran-alirannya. Aliran ini menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulul.
Hamka menegaskan juga bahwa tasawuf jenis tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan begitu juga sebaliknya. Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ahli-ahli sufi sekaligus filosof. Oleh karena itu, mereka gemar terhadap ide-ide spekulatif. Dari kegemaran berfilsafat itu, mereka mampu menampilkan argumen-argumen yang kaya dan luas tentang ide-ide ketuhanan.
C. Tasawuf Irfani
Tasawuf irfani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana mengenal Allah secara benar yang hanya bisa ditempuh dengan kesucian hati, para sufi dengan berbagai aliran yang dianutnya memiliki sesuatu konsepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniyah (riyadhah), lalu secara bertahap menempuh beberapa fase yang dikenal dengan maqom (tingkatan) dan hal (keadaan), dan berakhir dengan mengenal (ma'rifat) kepada Allah. Potensi untuk memperoleh ma'rifat telah ada pada manusia. Persoalannya adalah apakah ia telah memenuhi prasarana atau pra syaratannya? Salah satu prasyaratannya adalah kesucian jiwa dan hati.
Jika totalitas jiwanya telah suci dan hatinya telah dipenuhi dengan dzikir kepada tuhan, maka hidup akan dipenuhi oleh kearifan dan bimbingan-Nya. Dalam dunia tasawuf qolb merupakan pengetahuan tentang hakikat, termasuk di dalamnya adalah hakikat ma'rifat, qolb yang telah suci akan mampu menembus alam malakut (misalnya, alam malaikat) sebagaimana telah diungkapkan oleh Al-Ghozali dalam kimia’ Al-Sa'adah-nya bahwa qolb merupakan sesuatu yang sejenis dengan malaikat, ketika berada dalam alam malakut inilah qolb mampu memperoleh ilmu pengetahuan dari Tuhan. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kondisi biologis batiniyah dengan perangkat qolb yang suci inilah yang mereka sebut sebagai ilmu ma'rifat, dan secara spesifik dapat memperoleh ilmu laduni, yakni ilmu yang datang melalui ilham yang dibisikkan ke dalam hati manusia.
Irfan berarti pengetahuan atau pengenalan. Qalb dalam pandangan shufi mempunyai fungsi esensial untuk memperoleh kearifan atau ma’rifah, hanya qalb yang suci yang dapat sampai kesana. Untuk sampai kepada ma’rifah ini mesti melalui tahapan-tahapan. Disamping tahapan-tahapan maqamat dan ahwal diatas, masih harus malalui usaha berikut:
• Riyadhah, merupakan latihan kejiwaan dalam usaha meninggalkan sifat buruk termasuk didalamnya adalah pendidikan ahlak dan pengobatan penyakit hati.
• Tafakkur (berfikir), dalam pandangan para shufi dapat menghasilkan ilmu ladunni dengan usaha yang sungguh-sungguh.
• Tazkiyyah al-Nafs, adalah proses penyucian jiwa dari kotoran-kotoran dan penyakit dalam hati.
• Dzikrullah, berarti mengingat Allah baik dengan ucapan lisan maupun dengan getaran hati.

KESIMPULAN
 Pada dasarnya, perkembangan ilmu tasawuf ini, terjadi karena adanya perbedaan pendapat para sufi. Sehingga timbullah berbagai macam paham dalam dunia kesufian. Paham-paham tersebut masing-masing memiliki tujuan yang berlainan, sehingga terjadi perbedaan yang mencolok antara paham yang satu dengan yang lain.
 Diantara peneliti-peneliti tasawuf membagi tasawuf kedalam tiga bagian:Tasawuf Akhlaqi, Taswuf Falsafi dan Tasawuf Falsafi.
 Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’). Karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

PENUTUP
Demikianlah makalah sederhana ini kami buat. Namun demikian, kami sebagai penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kami mohon maaf apabila masih banyak ditemui kesalahan, itu datangnya dari kealpaan kami. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan dari pembaca semua. Terutama dari Bapak Drs. H. S. Hamdani, MA. selaku pembimbing kami dan teman-teman pada umumnya.
Akhirnya, marilah kita kembalikan semua urusan kepada-Nya. Billahit taufiq wal hidayah war ridho wal inayah.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar ,Rosihan.Solihin, Mukhtar, Ilmu Tasawuf, Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2006.
Jamil, H. M., Cakrawala Tasawuf, Jakarta: GP. Press, 2007.
HamkaTasawuf Perkembangan dan Pemurniannya.Jakarta: P.T. CITRA SERUMPUN PADI, 1986.
Nata, Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Hilal,Ibrahim, Tasawuf(Antara Agama dan Filsafat), Bandung: PUSTAKA HIDAYAH, 2002.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda komentar blog ini dan budayakan memberikan pendapat
terima kasih

 
Blogger Templates